Dwita Rani Putri
Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Riau
Pernahkah kita memperhatikan bahwa sebagian besar waktu belajar siswa dihabiskan di dalam ruangan berdinding empat? Padahal, materi yang dipelajari di sekolah, terutama mata pelajaran seperti Biologi, sangat dekat dengan lingkungan di sekitar mereka.
Ekosistem, keanekaragaman hayati, fotosintesis, dan pencemaran lingkungan bukan sekadar konsep yang tertulis di buku teks, melainkan fenomena yang dapat diamati langsung di halaman sekolah. Persoalannya, tidak semua sekolah memanfaatkan potensi tersebut secara optimal.
Salah satu pendekatan yang dapat menjembatani kesenjangan antara materi pelajaran dan kehidupan nyata adalah pedagogi hijau. Pendekatan ini menempatkan lingkungan sebagai sumber belajar sekaligus sarana pembentukan karakter peduli lingkungan.
Gambaran penerapannya dapat dilihat pada sebuah foto kegiatan di lingkungan sekolah: beberapa siswa berjongkok menata tanaman dalam pot hitam yang berjajar di atas bangku beton yang dicat kuning dengan motif kotak berwarna merah, biru, dan hijau.
Di sisi lain tampak ban bekas yang dicat hijau dan difungsikan sebagai wadah tanam, serta paranet hitam yang dipasang untuk menaungi tanaman dari paparan sinar matahari. Bangunan sekolah di sekitarnya pun dicat dengan warna-warna cerah.
Foto tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran berwawasan lingkungan dapat dimulai dari hal yang sederhana. Meskipun demikian, upaya mengembangkan pedagogi hijau secara berkelanjutan di SMA tidak lepas dari berbagai tantangan, terutama berkaitan dengan infrastruktur dan kompetensi guru.
Artikel ini membahas kedua tantangan tersebut beserta strategi untuk menghadapinya. Memahami Pedagogi Hijau, Pedagogi hijau (green pedagogy) dapat dipahami sebagai pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan nilai, pengetahuan, dan tindakan peduli lingkungan ke dalam proses belajar mengajar.
Dalam pendekatan ini, siswa tidak hanya menerima informasi tentang kerusakan lingkungan, tetapi juga terlibat langsung dalam kegiatan yang memberikan dampak positif, seperti menanam, merawat tanaman, memilah sampah, mengolah limbah organik, dan menghemat energi. Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada ranah kognitif, tetapi juga menyentuh ranah afektif dan psikomotor.
Landasan teoretis pedagogi hijau sejalan dengan gagasan belajar melalui pengalaman. Kegiatan menanam di sekolah memenuhi seluruh tahapan tersebut.
Siswa mengalami langsung proses menanam, mengamati pertumbuhan tanaman, menghubungkan hasil pengamatan dengan konsep biologi, kemudian mencoba perlakuan baru untuk memperbaiki hasilnya. Di Indonesia, pendekatan ini memiliki landasan kebijakan yang cukup kuat. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup mendorong pendidikan lingkungan hidup sebagai bagian dari upaya pelestarian lingkungan. Selain itu, Kurikulum Merdeka memberikan ruang melalui projek penguatan profil pelajar Pancasila dengan tema gaya hidup berkelanjutan, dan program sekolah berwawasan lingkungan seperti Adiwiyata telah lama menjadi rujukan bagi sekolah-sekolah yang ingin menumbuhkan budaya peduli lingkungan.
Belajar dari Pot, Ban Bekas, dan Paranet, Apabila diamati lebih cermat, foto kegiatan siswa tersebut memuat setidaknya tiga pesan penting bagi pengembangan pedagogi hijau.
Pertama, adanya keterlibatan aktif siswa. Siswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi turun langsung menata dan merawat tanaman. Keterlibatan ini penting karena rasa memiliki terhadap lingkungan sekolah tumbuh dari pengalaman terlibat, bukan dari perintah semata.
Kedua, pemanfaatan barang bekas. Ban bekas yang dicat dan diisi tanah merupakan contoh penerapan prinsip reuse, yaitu menggunakan kembali barang yang sudah tidak terpakai agar tidak menjadi limbah. Hal ini sekaligus menjadi pembelajaran kontekstual tentang pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular.
Siswa belajar bahwa keterbatasan fasilitas bukan penghalang untuk berkreasi. Ketiga, penerapan teknik budi daya sederhana yang sarat konsep sains.
Pemasangan paranet, misalnya, berkaitan dengan pengaturan intensitas cahaya matahari yang diterima tanaman, sedangkan pemilihan pot dan media tanam berkaitan dengan ketersediaan air dan unsur hara. Bagi guru Biologi, setiap unsur dalam foto tersebut dapat dikembangkan menjadi pertanyaan investigasi, misalnya bagaimana pengaruh intensitas cahaya terhadap pertumbuhan tanaman atau mengapa jenis media tanam tertentu menghasilkan pertumbuhan yang berbeda.
Selain itu, dinding dan bangku beton yang dicat warna-warni memperlihatkan bahwa ruang sekolah yang semula gersang dapat diubah menjadi lingkungan belajar yang menarik dan nyaman.
Lingkungan fisik yang menyenangkan berpotensi meningkatkan motivasi siswa untuk terlibat dalam kegiatan belajar di luar kelas. Tantangan Infrastruktur dalam Pengembangan Pedagogi HijauMeskipun potensinya besar, pengembangan pedagogi hijau di SMA menghadapi sejumlah kendala infrastruktur. Penggunaan pot dan ban bekas pada foto tersebut dapat dibaca sebagai strategi adaptif terhadap keterbatasan fasilitas.
Beberapa tantangan infrastruktur yang umum dijumpai di sekolah adalah sebagai berikut:
1. Keterbatasan lahan. Banyak sekolah, terutama di wilayah perkotaan, memiliki lahan terbuka yang sempit karena didominasi bangunan dan lantai beton. Kondisi ini membatasi ruang untuk membangun kebun sekolah, taman edukasi, atau area konservasi.
2. Ketersediaan air. Tanaman membutuhkan penyiraman yang rutin, terutama pada musim kemarau. Sekolah yang tidak memiliki sumber air memadai atau sistem penampungan air hujan akan kesulitan menjaga keberlangsungan tanaman.
3. Keterbatasan sarana dan prasarana pendukung. Alat berkebun, media tanam, pupuk, bibit, dan tempat penyimpanan peralatan sering kali belum tersedia secara memadai. Laboratorium alam atau rumah kaca juga belum dimiliki oleh sebagian besar sekolah.
4. Perawatan yang tidak berkelanjutan. Kegiatan penanaman sering kali bersifat seremonial dan hanya bersemangat pada awal program. Setelah itu, tanaman terbengkalai karena tidak ada pembagian tanggung jawab yang jelas, terlebih saat masa libur sekolah atau pergantian angkatan.
5. Keterbatasan pendanaan. Program hijau jarang dialokasikan anggaran khusus dalam rencana kegiatan dan anggaran sekolah, sehingga pelaksanaannya bergantung pada inisiatif individu atau sumbangan sukarela.
Jika dibiarkan, kendala-kendala tersebut dapat menyebabkan pedagogi hijau hanya berhenti sebagai program pada awal pelaksanaan dan tidak berkembang menjadi budaya sekolah. Oleh karena itu, sekolah perlu melihat keterbatasan infrastruktur sebagai tantangan yang dapat dijawab dengan kreativitas dan perencanaan yang matang.
Tantangan Kompetensi Guru dalam Pengembangan Pedagogi Hijau Infrastruktur yang memadai belum menjamin keberhasilan pedagogi hijau apabila tidak disertai guru yang mampu merancang dan memandu pembelajarannya.
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menegaskan bahwa guru wajib memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi tersebut sama-sama dibutuhkan dalam pembelajaran berbasis lingkungan. Pada foto kegiatan tersebut, siswa tampak aktif bekerja. Namun, kegiatan fisik semata belum otomatis menjadi pembelajaran yang bermakna. Pertanyaan pentingnya adalah apa yang dipelajari siswa dari kegiatan tersebut dan bagaimana guru membantu mereka menghubungkannya dengan konsep keilmuan. Di sinilah kompetensi guru berperan. Beberapa tantangan kompetensi yang dihadapi guru antara lain sebagai berikut.
1. Pemahaman konsep pedagogi hijau yang masih terbatas.
Sebagian guru masih memandang kegiatan lingkungan hanya sebagai kerja bakti atau kegiatan ekstrakurikuler, bukan sebagai strategi pembelajaran yang terintegrasi dengan capaian pembelajaran.
2. Keterampilan merancang pembelajaran kontekstual.
Guru perlu mampu mengaitkan kegiatan lingkungan dengan mata pelajaran. Biologi dapat membahas ekosistem dan pertumbuhan tanaman, Kimia dapat membahas pH tanah dan 4 kandungan pupuk, Fisika dapat membahas cahaya dan energi, sedangkan Ekonomi dapat membahas nilai guna limbah dan kewirausahaan hijau.
3. Kemampuan melakukan asesmen.
Menilai sikap peduli lingkungan dan keterampilan proses sains membutuhkan instrumen yang tepat, seperti rubrik penilaian, jurnal pengamatan, lembar observasi, dan portofolio projek. Tanpa asesmen yang jelas, kegiatan hijau sulit diukur ketercapaiannya.
4. Keterbatasan waktu dan beban administrasi.
Beban mengajar dan tuntutan administrasi sering kali menyulitkan guru untuk merancang pembelajaran di luar kelas yang membutuhkan persiapan matang.
5. Akses pelatihan yang belum merata.
Tidak semua guru memiliki kesempatan mengikuti pelatihan pendidikan lingkungan, pembelajaran berbasis projek, maupun pembelajaran berdiferensiasi yang relevan dengan pedagogi hijau.
6. Peran sebagai teladan.
Guru merupakan figur yang ditiru oleh siswa. Nilai peduli lingkungan akan lebih mudah tertanam apabila guru juga konsisten menunjukkan perilaku ramah lingkungan, misalnya dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan membuang sampah pada tempatnya.
Strategi Menghadapi Tantangan Terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh sekolah untuk mengatasi tantangan infrastruktur dan kompetensi guru.
1. Memulai dari hal sederhana dan memanfaatkan sumber daya yang ada
Sekolah tidak perlu menunggu fasilitas yang lengkap untuk memulai. Pemanfaatan pot, ban bekas, botol plastik, dan dinding kosong untuk kebun vertikal sudah cukup menjadi langkah awal. Teknik sederhana seperti pembuatan lubang resapan biopori dan pengomposan sampah daun juga dapat dilakukan pada lahan yang terbatas.
2. Melibatkan siswa sebagai pelaku utama
Keberlanjutan program akan lebih terjamin apabila siswa dilibatkan sejak perencanaan hingga perawatan. Pembagian jadwal piket tanaman antarkelas, pemberian tanggung jawab pada kelompok siswa tertentu, dan pembuatan kartu pengamatan tanaman dapat menumbuhkan rasa memiliki dan kedisiplinan.
3. Memperkuat kompetensi guru melalui kolaborasi
Guru dapat membentuk komunitas belajar untuk berbagi praktik baik dalam mengintegrasikan pedagogi hijau ke dalam pembelajaran. Kolaborasi lintas mata pelajaran penting dilakukan agar pedagogi hijau tidak menjadi beban satu guru saja. Guru Biologi dapat berperan sebagai penggerak, sementara guru mata pelajaran lain mengembangkan keterkaitan materi sesuai bidangnya. Pelatihan pembelajaran berbasis projek dan penyusunan asesmen juga perlu diprioritaskan.
4. Menjalin kemitraan dengan pihak luar
Sekolah dapat bekerja sama dengan komite sekolah, dinas lingkungan hidup, perguruan tinggi, dan komunitas peduli lingkungan untuk memperoleh dukungan berupa bibit, pelatihan, pendampingan, maupun bantuan sarana. Mahasiswa pendidikan biologi yang sedang menjalani praktik lapangan juga dapat dilibatkan sebagai pendamping kegiatan.
5. Mengintegrasikan kegiatan hijau ke dalam penelitian sederhana siswa
Setiap pot dapat dijadikan unit percobaan kecil. Siswa dapat merumuskan masalah, menyusun hipotesis, melakukan pengamatan secara berkala, mencatat data, menganalisis hasil, dan mempresentasikan temuannya. Dengan cara ini, kegiatan menanam berubah menjadi pembelajaran sains yang melatih keterampilan berpikir kritis dan literasi ilmiah.
6. Memasukkan program hijau ke dalam perencanaan sekolah
Agar tidak bergantung pada kegiatan insidental, program pedagogi hijau sebaiknya dimasukkan ke dalam rencana kerja dan anggaran sekolah. Dengan demikian, ketersediaan bibit, media tanam, dan perawatan fasilitas memiliki dukungan yang jelas dan berkesinambungan.
Dampak yang Diharapkan Apabila pedagogi hijau dikembangkan secara konsisten, dampaknya dapat dirasakan pada beberapa aspek. Dari sisi akademik, siswa memperoleh pemahaman konsep yang lebih mendalam karena belajar dari pengalaman langsung. Dari sisi karakter, siswa terbiasa bertanggung jawab, bekerja sama, dan peduli terhadap lingkungan. Dari sisi lingkungan, sekolah menjadi lebih asri, teduh, dan nyaman, sehingga mendukung suasana belajar yang kondusif.
Sementara itu, bagi guru, pedagogi hijau membuka peluang untuk mengembangkan kreativitas mengajar dan memperkaya variasi strategi pembelajaran.












